BELAJAR DENGAN PETANI IKAN DI PARUNG


lele-olahan.jpg

Tulisan berikut ini adalah sebuah rangkuman kisah dan pengalaman harian petani ikan di Parung. Mengulas berbagai pelajaran nyata mengelola sebuah usaha ikan. Khususnya lele. Latar belakang petani tersebut bukanlah seorang lulusan Sarjana Manajemen atau tamatan Fakultas Pertanian. Namun ia adalah seorang petani sederhana yang memiliki skill alami mengelola sebuah usaha perikanan.

Sebut saja Oji, seorang petani lele di daerah Parung, Bogor. Usaha yang ia lakukan memang penuh liku. Lele ia bidik sebagai komoditas pilihan lantaran Oji melihat begitu besar daya serap pasar. Selain itu, pria ini juga melihat ada begitu besar potensi pengembangan budidaya lele di daerahnya.

Cek pasar itu pasti. Oji selalu mengamati daya serap pasar sebelum memutuskan untuk “mencetak” lele. Tidak jarang ia berkunjung ke pasar hanya sekedar untuk menanyakan daya serap, harga pembelian lele, sekaligus memetakan pemasok lele yang sudah ada. “Pembeli pasti akan lari kepada kita jika melihat kita memiliki kapasitas produksi lebih besar dan harga lebih murah dari jumlah kapasitas dan harga pemasok yang lain,”ungkap Oji. Kapasitas produksi besar mencerminkan eksistensi petani lele yang bersangkutan. Calon pelanggan butuh kepastian dari seorang suplayer.

Setelah semua data ia peroleh, Oji pun berhitung. Ia merancang sebuah perencanaan usaha lele. Memperhitungkan biaya produksi, melakukan pendataan kapasitas produksi, menyesuaikan dengan modal yang tersedia, menentukan harga bersaing (lebih murah dari harga yang sudah ada di pasar dan memilih model usaha.

Secara garis besar, dalam dunia usaha lele, terdapat 4 model usaha yang bisa dilakukan. Yaitu sebagai penyedia bibit, pembesaran, penadah atau tengkulak, dan distributor akhir. Pemilihan model usaha yang akan dilakukan harus disesuaikan dengan sumberdaya yang tersedia. Terutama Modal dan lahan.

Hasil perhitunganpun mengarahkan Oji agar melakukan bisnis lele sebagai pembesar. Dengan model seperti itu Oji memiliki beberapa keuntungan. Ia bisa menyiasati keterbatasan lahan, lebih menghemat biaya produksi, risiko terkena penyakit lebih sedikit dan perputaran modal lebih cepat. Sehingga untung capat didapat.

Salah satu syarat utama sebagai pembesar yaitu harus sudah memiliki network yang solid. Dalam hal ini Oji telah memiliki beberapa petani pemasok bibit lele. Petani seperti itu bisanya tidak mau secara sebarangan menjual lelenya kepada sembarang orang yang belum dikenal reputasinya. Butuh waktu cukup lama untuk membangun relasi saling percaya seperti itu.

Oji membeli lele dari pemasok dengan sistim “Gabruk” artinya, smua ikan yang berada di dalam kolam di beli semua tanpa disortir. Setelah dibeli, Oji baru menyortir ikan lele tersebut. Ia menjual lele berukuran “daging”. Sementara itu ikan yang masih terlalukecil “palang” di pelihara lebih dulu untuk dibesarkan. Dijual setelah mencapai kualifikasi ukuran “daging”. Biasanya butuh waktu pembesaran sekitar 18 – 21 hari.

Menjual langsung kepada distributor akhir lebih menguntungkan dibanding bila lele dijual kepada tengkulak. Sebab, distributor akhir umumnya berani menawar dengan harga lebih tinggi dari harga yang ditawarkan oleh tengkulak. “Seringkali tengkulak berlaku jual mahal. Ia pura-pura tak mau membeli lele dari petani. Tengkulak seperti itu menunggu sampai petani menyerah karena terhimpit kebutuhan hidup. Akhirnya tengkulak bisa seenaknya mematok harga semurah mungkin,” papar Oji.

Selain itu, Anda juga menjadi lebih berani bersaing dalam soal harga. Anda bisa menawarkan harga yang lebih murah daripada harga suplayer lain yang umumnya adalah tengkulak. Harga jual lele yang ditawarkan Oji lebih murah bila dibanding dengan suplayer yang lain. Akibatnya, Oji selalu memenangkan perebutan hati konsumen. Hal seperti itu sering membuat pesaing yang tak siap mental menjadi geram. Berbagai premanisme pun menjadi kerap dihadapi oleh Oji.

Kondisi seperti itu salah satu cermin pelaku bisnis kita yang tidak siap menanggapi persaingan secara sehat. Acapkali efisiensi produksi dilupakan. Sehingga harga yang ditawarkan menjadi tidak kompetitif.

Bila Anda bermaksud menjual lele hasil pembesaran langsung ke tangan distributor akhir, disarankan agar memperhitungkan biaya transportasi. Menjadi lebih meguntungkan bila seorang pembesar ikan memiliki alat transportasi sendiri atau lokasi usahanya dekat dengan target pasar. Hal ini bise lebih menghemat biaya transportasi.

Tabiat pasar pun harus diakrabi. Sistim pembayaran “menggantung” sudah menjadi sebuah tradisi di pasar. Dalam sistim pemasaran ini, barang pasokan pertama belum akan dibayar. Uang baru akan diterima oleh suplayer pada priode pemasukan berikutnya. Itu pun hanya dibayar satu periode saja. Satu periode yang lain masih digantung (hutang).

Sistem pembayaran seperti itu menjadi bermasalah bila antara pemasok dengan penerima belum terjalin hubungan timbal balik saling percaya dan dipercaya. Menanggapi hal seperti itu, Oji pun menganut cara pembayaran cash & carry. Sebab, pria ini telah kenyang pengalaman pembayaran macet. Sistim cash & carry sering berhasil bila didukung oleh harga yang kompetitif dan kualitas yang terjamin. (@ agriculturesupercam,  franz j.b)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s