MENGENAL LEBIH DEKAT: “TEAM UNDERDOG”


A. Sejarah Singkat Marley Sasak Football Club.
Kompetisi di Ralin, Marley Sasak FC kesebelasan yang pernah disebut-sebut spesialis orang-orang kulit hitam ini, pada kali pertama 2006 “merumput” dalam kompetisi sepak bola di Wilayah Ralin menurunkan pemain-pemain terbaiknya, seperti; Maroby, ???????????????????????????????Soppeng, Rizal, Yani, Apples, Prayitno. Untuk mengenal nama-nama mereka, tentu hanya pemerhati sepak bola wilayah Limo dan sekitarnya saja yang mengetahui. Disadari, tidak semua orang akan mengenal mereka. Tetapi, pada masanya mereka adalah pemain terbaik dan sangat tangguh. Di Ralin, meskipun hanya mendulang sebagai “team underdog” tetapi Marley Sasak FC dapat mencapai pada putaran ke-3. Disadari, ketangguhan Rino FC dengan formasi pemain lengkap PSB (Persatuan Sepak Bola Bogor) Nurul, Nano, Viktor, Wempy, dan lain-lain dapat menghadang laju Marley Sasak FC (1-0).
Kompetisi di Limo, Sabtu, 9 Juni 2007 Marley Sasak Football Club mengikuti turnamen sepak bola di Lapangan Pemuda-Limo. Pada masa keemasan dan ketangguhan club-club di wilayah Limo dan sekitarnya, sebut saja JFC (Jentring Family Club), Bunker, Remaja Cinere, Laguna, Kunir, PSP, Mekar Jaya, Goa Patin, Tirtarasa, dan lain sebagainya, Marley Sasak FC pada saat itu memang masih “embrio”. Seperti bayi yang baru lahir. Keberanian untuk “menjajal” sebuah club yang baru dilahirkan dan tanpa pengalaman, tanpaknya bukan menjadi penghalang manajemen Marley Sasak FC mencari keperuntungan dalam kompetisi di Lapangan Pemuda Limo. Tidak diragukan lagi pada masa-masa kecermelangan panitia Pemuda Limo, Turnamen Sepak Bola Limo ketika itu menjadi barometer berbagai kompetisi di kawasan Kota Depok dan sekitarnya. Banyak pemerhati sepak bola di wilayah ini, mengungkapkan “siapa yang mampu menandingi team-team seperti pada masa itu,” ujarnya. Bukan mustahil, penyelenggara seperti “mendulang emas”. Tidak perlu berfikir keras seperti tahun-tahun berikutnya. Tetapi semua itu berkat kerja keras keguyuban warga di sekitarnya, Acong CS Turnamen Sepak Bola Pemuda kembali “bergairah”.
Pada 2007 Marley Sasak FC menurunkan formasi full pemain Africa. Team ini berkolaborasi dengan Goa Patin FC atau disebut “Marley-Goa Patin”. Ketika itu, Marley-Goa Patin mampu menembus putaran ke-3. Tetapi sangat disesalkan hari itu team ini mendapat “sandungan”. Marley-Goa Patin mendapat diskualikasi lantaran kehadiran pemain mengalami keterlambatan. Menyadari kemacetan memang terjadi di mana-mana, tidak saja di Wilayah Limo, tetapi juga di Ciputat, Bintaro dan Pondok Cabe.
Mengulas pada pertandingan di Limo tersebut, beberapa lawan-lawan yang sempat dihadapi adalah: RS Puri Cinere FC (Cinere), Putra Pabuaran FC (Pabuaran Citayem), Greelish FC (Pondok Cabe), Bunker FC (Grogol Krukut), JFC (Jentring) Limo. Hingga penghujung 2010, Marley Sasak FC masih tetap konsisten dengan menurunkan tarkam-tarkam berkualitas, selain berasal dari tarkam lokal, juga sempat diturunkan pemain dari Chile, Brazil, Negeria, Kamerun, Mali, dan lain sebagainya.
Kompetisi di Rengas, menjadi langganan undangan. Suatu ketika Marley Sasak FC menjadi undangan pembuka menghadapi Goa Patin FC. Menyadari ketangguhan orang-orang Mali kulit hitam, antara lain: Abubakar-Simba-Sila-Umar. Bukan isapan jempol, mereka memilik talenta yang tidak dapat diragukan dalam berbagai turnamen. Mereka tidak pernah absen menjadi juara sejati di jabodetabek. Tidak kalah sigap, Marley Sasak FC juga menurunkan seperti: Husein (Persikabo) dan pemain-pemain Sparta. Memang kurang menguntungkan bagi Marley Sasak FC. Cuaca yang buruk dan banyak orang menyebut pada putaran-putaran awal harus menghadapi “tim neraka”. Alhasil, Goa Patin FC harus menjungkalkan Marley Sasak FC dengan skor 1-0. Memang, bagi Marley Sasak FC bukan percuma hasil seperti itu. Berbagai upaya sudah dicoba, tetapi memang keberangkatan Manajemen Marley Sasak FC adalah sebuah pembelajaran dan mencari pengalaman.
Marley Sasak FC, tidak saja ikut kompetisi di Ralin, beberapa wilayah dicoba untuk dijelajahi, antara lain: Rengas (Bintaro), Atang Sanjaya (Bogor), Prigi (Bedahan). Pada turnamen sepak bola di Prigi, Marley Sasak FC “merger” dengan team OPLOS (Pasar Putih). Menjadi catatan sejarah Marley Sasak FC, team ini mampu “mendayung perahu” hingga sampai juara bersama manajemen Oplos. Sangat menarik, kala itu “Oplos-Marley Sasak FC” menghancurkan kekuatan team-team bulldozer pada putaran ke-3 dan 4, antara lain Tirtarasa. Tirtarasa dengan materi pemain tangguh, sebut saja; Husein, Sasa, Agung, Al-hajji (Persebaya), Boipolin (Jayapura), AK (Kiper), mampu dijungkalkan oleh “Oplos-Marley Sasak FC”. Manajamen Oplos-Marley yang sempat “diotaki” Maroby menurunkan materi pemain full pemain Africa (David Padbe, Sese, dan Orang-orang Mali). Pertandingan menjadi antiklimak, setelah kekalahan Tirtarasa karena memang final belum berakhir. Pertandingan berikutnya menjadi “dingin” dan gersang, karena team yang dianggap “masterpiece” panitianya “tumbang” terlebih dahulu.
Selain bergabung dengan team-team di atas, Marley Sasak FC juga mencoba “berkoalisi” dalam manajemen team-team “papan atas” untuk memberikan bantuan pemain-pemain asing. Antara lain PSP FC (Evra, Puda, Gemenez, Cristian, Cladio), UNJ FC (Al-Hajji, Sony, Puda, Arron), Laguna FC (Sony, Yanick Ossok, Petric, Pemain Mali).*
B. Asal Nama Marley Sasak FC
Menyebut nama Marley Sasak FC, banyak yang mengidentikan Bob Marley. Itu memang tidak bisa dipungkiri. Tetapi, jangan berprasangka bahwa Marley Sasak FC khas dengan marijuana dan sejenisnya. Drug No Way! Bagi Marley Sasak FC adalah, mendengarkan music-musiknya adalah sama halnya dengan seni sepak-bola.
Nama Marley Sasak FC, memang diadopsi dari penyanyi legendaris Bob Marley yang berasal dari Jamaika. Tetapi terlepas dari itu kelahiran Marley Sasak FC sebenarnya dirintis oleh masyarakat perantau (kaum urban) dan masyarakat sekitarnya yang berdomisili di wilayah Kampung Sasak, Limo, Depok. Mereka berawal dari masyarakat pedagang (Pedagang Martabak, Pecel Lele) dan pekerja pabrik, dan supir yang mempunyai kesamaan visi. Mereka mencoba mengadu nasib di Jakarta, Kota Depok. Sambil untuk mengakrabkan antar masyarakat perantau, mereka mendanai dan membentuk sebuah komunitas Marley (Martabak Pecel Lele). Kedengarannya memang lucu, tetapi itulah sebuah kreatifitas sebuah komunitas kecil yang hendak menjalin komunikasi dan silaturahmi. Tetapi, anggota mereka tidak saja didominasi masyarakat pendatang, justru masyarakat kebanyakan antusias mendukung terbentuknya kegiatan mereka dan bahkan menjadi p383883_320755727959239_1943194731_n(1)enyumbang terbesar dalam pembentukan Marley.
C. Membubarkan Diri
Kesebelasan di wilayah Kampung Sasak sebenarnya juga banyak bertebaran, dan memiliki manajeman yang baik, sebut saja salah satunya Laguna FC. Laguna FC, bukan nama baru. Kesebelasan ini menjadi parameter sebagai team tangguh dan bergengsi di Lapangan Pemuda, Limo. Tetapi, dalam perjalanan waktu Marley yang banyak belajar dengan berbagai kesebelasan di wilayah ini. Kehadiran Marley ketika itu bergabung dengan beberapa tim di wilayah ini tidak menggembirakan. Mereka menyadari, para pendiri Marley lambat laun tidak mempu melakukan manajemen atau pengelolaan dengan baik. Akhirnya, Marley benar-benar seperti “mati suri”. Para perintisnya, seperti Kuswanto, Oji, dan Kholim, serta Tompel mengakui untuk mengembangkan sepakbola di wilayah ini “tidak berdaya”. Hal ini terbentur dengan pengalaman mereka yang benar-benar sangat terbatas. Acap kali, sesuatu yang lazim barangkali, bukan saja di level nasional, benturan-benturan kecil atau friksi-friksi kadang muncul. Memang itu semua sebuah dinamika dalam organisasi. Melatar-belakangi hal itu, akhirnya mereka sepakat untuk membubarkan diri tim yang mereka sebut Marley (Martabak Pecel Lele) itu.*

Advertisements

Posted on September 19, 2014, in TENTANG KITA and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Imanuel Gurik

ANAK NEGERI INSTITUTE

WN.com - Antara News

"beritanya dapat dipercaya". Redaksi/Iklan: Jln. H. Saleh 54 Sasak Limo, Kota Depok, Indonesia. Tlp./Fax (021) 7541037, HP 0818 0816 0816, http://depokpress.com, e-mail: depokPress@yahoo.com

TIME

Current & Breaking News | National & World Updates

Radical Faggot

Black Knowledge Queer Justice

The Trailhead

Life and death and sleeping on the ground

follow your nose

it always knows

Problem Machine

It's not a disaster.

Fit Is a Feminist Issue

Feminist reflections on fitness, sport, and health

the literate lens

photography, writing and the spaces between

The religious imagineer

Where the fire and the rose are one

Tales for Life

Some stories just have to be told: healing and wholeness in everyday life

Sketch Away: Travels with my sketchbook

Just another WordPress.com site

Paula Reed Nancarrow

Essays, Stories, Ephemera

Paul Bernal's Blog

Privacy, Human Rights, Law, The Internet, Politics and more

Painting On Scars

"If you want to change the world, who do you begin with: yourself or others?" - Solzhenitsyn

The Renaissance Mathematicus

Just another WordPress.com weblog

Song of the Lark

Music, melodies, mutterings

Chiller

This blog is about everything.

The Belle Jar

"Let me live, love and say it well in good sentences." - Sylvia Plath

Incidental Naturalist

Connecting people to nature

Chicago Literati

A Nonprofit Literary magazine

Extra Dry Martini

Straight up, with a twist.

Ticket to Adventures

Travel blog from around the world, near and far.

Wandering Gaia

Dispatches from the Anthropocene

BEN TROVATO – Durban Poison

Columns, letters and rants

%d bloggers like this: