KEKERABATAN DI BALIK SIBUKNYA PASAR


Oleh: Efira Tamara Thenu

Di balik hiruk pikuk tawar-menawar, tersimpan kekeluargaan di dalam pasar. Beceknya tak kemudian membuat seisinya sekadar berniaga. Pemandangan ramai dan sibuk membungkus kisah di balik para pedagang pasar.

Pasar Kemiri merupakan pasar tradisional yang tak pernah sepi pengunjung dari pagi hingga malam yang terletak di daerah Depok, Jawa Barat. Pasar ini  menjajarkan barang dagangannya  di sepanjang jalur kereta dengan menawarkan segudang bahan baku rumah tangga, seperti sayur-mayur,  buah-buahan, daging, ikan, hingga perabotan. Pasar ini menjadi jantung bagi para ibu yang mengurus keluarganya, begitu juga dengan pedagang makanan dan pedagang-pedagang lainnya. Pasar yang tak pernah tidur ini menjadi perputaran yang dapat menghidupi dan memenuhi kebutuhan keluarga di dalamnya.

Datang dengan tujuan mencari nafkah, para pedagang dihadiahi dengan kerabat baru. Begitu juga dengan pembeli. Datang dengan fokus membeli kebutuhan sehari-hari ternyata menghasilkan pertemuan baru. Banyak orang berpikir bahwa pasar hanya sekadar tempat bertemunya pedagang dan pembeli demi memenuhi kebutuhan masing-masing pihak. Ribuan transaksi terjadi setiap hari di sini, begitu juga dengan seribu pertemuan. Pertemuan-pertemuan itu kemudian menghantarkan para pedagang dan pembeli ke tali kekerabatan.

Suasana Pasar Kemiri, Depok

Tidak hanya pertemuan pembeli dan pedagang, pasar juga menjadi tempat bertemunya sesama pedagang. Awalnya tak saling kenal, tetapi seiring waktu dengan adanya kesamaan tujuan dan rasa kedekatan, para pedagang mulai saling berkoneksi secara alami. Layaknya kerabat dekat, mereka tak sungkan-sungkan untuk saling membantu atau meminta bantuan. Tak hanya itu, cerita-cerita tentang segala hal juga terlontar ketika menunggu pembeli datang. Kadang mengeluhkan harga yang naik, kadang membicarakan keadaan negara, hukum, dan politik, atau hanya sekadar cerita-cerita santai saja yang terlontar. Pertemuan pagi ke pagi membuat kedekatan para pedagang tak perlu diragukan lagi. “Namanya di pasar ya kenal kanan-kiri. Sudah pasti dekatlah karenakan ketemu terus setiap hari dari pagi sampai ketemu pagi lagi,” ujar Yanto, pedagang sayur-mayur di Pasar Kemiri, Depok.

Dengan adanya rasa kekerabatan juga membuat para pedagang tak jarang terlihat membantu melayani pembeli yang datang di toko milik pedagang tetangganya. Ketika teman sesama pedagangnya sedang beristirahat, megambil barang dagangan atau menjalankan ibadah, tetangganya akan siap untuk membantu. Saling tolong-menolong itu dilakukan layaknya kerabat dekat, tanpa pamrih atau motif apapun, “Seperti tetangga saja gitu,” ujar Yanto.

Kekerabatan di dalam pasar memang tak bisa dipungkiri. Banyak pertemuan sesama pedagang dengan dasar kepentingan dan tujuan yang sama kemudian tumbuh menjadi persahabatan dan kekeluargaan. Berdampingan setiap hari membuat terciptanya suasana seperti rumah bagi para pedagang di Pasar Kemiri. Mengisi waktu kosong dengan canda tawa ketika sepi pembeli menjadi salah satu hal yang dilakukan para pedangang di pasar ini untuk mengindahkan waktunya.

Tak hanya kepada sesama pedagang, sering juga ditemukan hubungan pedagang dan pembeli yang seiring waktu berubah menjadi pertemanan. Berawal dari pertemuan yang rutin membuat seorang pembeli bernama Mira kini berteman dengan salah satu pedagang ayam. “Ya awalnya kami hanya sekedar pedagang dan pembeli, tetapi karena saya sering membeli di situ jadi lama-lama dekat dan dia juga sering tanya-tanya saya waktu anaknya mau masuk sekolah,” ujar Mira.

Pertemuan intensif pedagang dan pembeli atau biasa disebut “langganan” menumbuhkan rasa akrab di antara keduanya. Pasar dengan para pedagangnya yang luwes berbicara berhasil menciptakan hubungan pertemanan anatara pedagang dan pembeli.

Pasar dengan dasar kepentingan berniaga ternyata juga berhasil membangun tali persaudaraan baru bagi beberapa orang. Membangun tempat mencari nafkah menjadi sebuah rumah kedua menjadi naluri alami bagi para pedagang dan pembeli di pasar ini.

Tersembunyi di balik wajah sibuk pasar terdapat tawa-tawa hidup dari kekerabatan yang terbentuk seiring dengan waktu. * Efira Tamara Thenu, adalah Mahasiswa Semester IV pada Program Studi Penerbitan (Jurnalistik), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s